Buah Naga untuk Sel Surya, Siswa Ini Berlaga di Amerika
buah naga dan sel surya buah naga penghasil listrik listrik dan buah naga listrik dari buah naga![]() |
| Buah Naga untuk sel surya |
Energi matahari jadi salah satu alternatif untuk menjawab kebutuhan
daya yang ramah lingkungan. Selain tersedia dalam jumlah melimpah,
energi ini tak bikin polusi. Sayangnya, pembuatan panel surya untuk mengubah sinar matahari menjadi listrik kini masih tidak "ramah" bagi kantung. Salah satu jenis panel surya, Dye Sensitized Sollar Cell (DSSC)
misalnya, menggunakan ruthenium kompleks yang harus diimpor dan berbiaya
relatif mahal. Miranti Ayu Kamaratih dan Octiafani Isna Ariani dari SMA Al- Hikmah,
Surabaya memutar otak dan akhirnya berhasil membuat DSSC lebih murah
dengan memakai limbah kulit buah naga. Ruthenium kompleks dan kulit buah naga sama-sama berwarna merah.
Selain itu, pemanfaatan limbah kulit buah naga menjadi nilai tambah bagi
lingkungan.
"Karakter warna dari kulit buah naga merah mirip dengan karakter
ruthenium kompleks. Ruthenium kompleks sendiri harganya sekitar Rp 10
juta isi 100 mililiter dan impor," kata Miranti di gedung Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia (LIPI), Jakarta, Senin (8/5/2017). Miranti menuturkan, kulit buah naga diekstrak dengan etanol 96 persen
pada pH 2-3 selama dua jam. Kemudian, hasil ekstraksi disaring dan
diuapkan pada suhu 35 derajat celsius. Ekstrak buah naga itu berfungsi untuk menangkap sinar matahari yang sebelumnya dikerjakan oleh ruthenium kompleks. Untuk melakukan percobaan, Miranti dan Octiafani menggunakan fasilitas di laboratorium panel surya LIPI di Bandung, Jawa Barat. Percobaan memakan waktu selama lima pekan. Keduanya menguji hasil
dari ekstrak kulit buah naga dan ruthenium kompleks dalam menyerap
energi matahari.
Hasilnya, ektrak kulit buah naga mampu menghasilkan energi sebesar 56 persen dibandingkan ruthenium kompleks.
"Hasilnya memang lebih rendah tapi sudah mencapai 56 persen
efisiensinya dari ruthenium. Jadi mungkin dengan meningkatkan kestabilan
warnanya, karena natural dye itu pasti tidak stabil warnannya, itu mungkin bisa mencapai rutenium," ujar Miranti. Riset penggunaan buah naga untuk energi surya ini bukan yang pertama.
Sebelumnya, peneliti dari Institut Teknik Surabaya (ITS) menggunakan
daging buah naga pada panel surya. "Cuma hasilnya lebih rendah dari kami. Karena daging buah naga
mengandung air, jadi akan menguap. Kan sayang daging buahnya. Harusnya
dimakan," ucap Miranti. Hasil penelitian Miranti dan Octiafani berhasil menyabet juara I pada
Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) 2016. Mereka akan berkompetisi pada
ajang Intel International Science and Engineering Fair (IISEF) 2017 di
Los Angeles, Amerika Serikat pada 13-20 Mei 2017. Sumber: sains.kompas.com

