Tampilkan postingan dengan label sains. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sains. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 Mei 2017

Heboh! Ilmuwan Temukan Ulat Pemakan Plastik

Setiap tahun, 80 juta ton plastik polietilen diproduksi di seluruh belahan dunia. Plastik tersebut biasa digunakan sebagai bahan baku pembuatan tas belanja dan pembungkus makanan. Namun, perlu ratusan tahun untuk menguraikan plastik tersebut. Hal ini tentu menimbulkan masalah terhadap lingkungan, karena saat ini sebagian plastik justru dibuang di tempat yang tidak semestinya, contohnya di laut, sungai, tanah.

Beberapa waktu lalu, peneliti dari Cambridge University, telah menemukan ulat pemakan plastik.ulat tersebut merupakan larva ngengat yang dapat memakan kandungan lilin di sarang lebah, dan juga mampu menguraikan plastik. Mungkin hal ini dapat menjadi kunci untuk menangani polusi plastik.

Dari percobaan yang telah dilakukan, ulat tersebut mampu memecah ikatan kimia pada plastik dengan cara yang persis mereka lakukan saat mereka mencerna lilin pada sarang lebah. Ulat tersebut dapat menciptakan lubang pada kantong plastik kkurang dari satu jam.

“Ulat tersebut akan menjadi permulaan,” ujar Dr. Paolo Bombelli, seorang ahli biokimia di University of Cambridge.

“Kami butuh waktu untuk memahami detail dari proses itu berlangsung. Kami berharap ulat inilah yang akan menyediakan solusi teknis terkait masalah limbah plastik,” ujar Bombelli.

Bombelli dan rekannya Federica Betocchini, asal Spanish National Research Council, telah mematenkan penemuannya tersebut. Mereka berambisi untuk cepat menemukan rahasia kimia dibalik penguraian plastik secara alami.

Mereka memiliki anggapan bahwa mikroba yang ada pada ulat memiliki peran penting untuk mengurai plastik. Jika proses kimia dapat cepat diidentifikasi, maka hal itu dapat menjadi solusi yang tepat untuk mengelola limbah plastik.

“Kami berencana menjadikan penemuan ini sebagai solusi yang tepat untuk menyingkirkan sampah plastik, menciptakan solusi untuk menyelamatkan laut, sungai, dan lingkungan kita dari dampak akumulasi plastik yang tidak terhindarkan,” kata Betocchini. Sumber: nulis.co.id

Senin, 15 Mei 2017

Inilah Alasan Ilmiah Mengapa Mimpi Tidak Boleh Diceritakan kepada Orang Lain

Walaupun kebanyakan orang bermimpi ketika tidur, hanya sedikit yang dapat mengingat isi mimpi mereka. Oleh karena itu, mimpi yang berhasil Anda ingat dan membekas dalam benak menjadi sesuatu yang sangat spesial dan patut diceritakan kepada orang lain.

Namun, seorang profesor di Institute of Cognitive Science, Carleton University, menyarankan untuk tidak melakukannya. Melalui artikelnya di Scientific American 9 Mei 2017, Jim Davis memaparkan dua teori mengenai alasan Anda bermimpi dan mengapa mimpi terasa begitu menarik untuk diceritakan.

Pertama adalah teori aktivasi-sintesis yang berkata bahwa mimpi merupakan interpretasi dari aktivitas acak syaraf tulang belakang dan otak kecil oleh otak depan kita. Terkadang informasi tersebut bisa kacau dan menyebabkan mimpi Anda menjadi sangat aneh.

Selain itu, teori tersebut juga mendukung adanya interpretasi emosi melalui mimpi. Contohnya adalah ketika Anda mendapat mimpi buruk ketika sedang merasa khawatir di dunia nyata. Bukannya merasa khawatir karena mimpi buruk tersebut, kekhawatiran justru membuat Anda bermimpi buruk

Teori kedua adalah mimpi sebagai persiapan untuk menghadapi situasi yang mengancam. Davis berkata bahwa ada beberapa bukti yang menguatkan teori ini, misalnya emosi mimpi yang biasanya negatif dan topik mimpi yang berkutat pada ancaman nenek moyang seperti jatuh, dikejar, bencana alam, dan lain-lain.

“Elemen-elemen menakutkan ini lebih banyak terlihat dalam mimpi daripada kehidupan sehari-hari. Banyak orang bermimpi dikejar hewan, tetapi seberapa seringkah hal ini terjadi di dunia nyata?,” ujar Davis.

Jadi, mengapa Anda begitu suka bercerita mengenai mimpi?

Davis berkata, salah satu alasannya adalah kepercayaan bahwa dua kepala lebih baik daripada satu ketika menghadapi suatu masalah, termasuk yang Anda lihat di dalam mimpi. Melalui diskusi, Anda secara tidak langsung berusaha untuk mempersiapkan diri bila menghadapi situasi serupa di dunia nyata.

Bias negativitas juga berpengaruh dalam hal ini. Manusia memang secara alamiah akan lebih perhatian terhadap hal-hal yang negatif dan berbahaya. Oleh karena itu, mimpi yang biasanya berisi informasi negatif terasa lebih penting dari yang seharusnya.

Alasan lainnya adalah tingkat emosi dalam mimpi. “Karena mimpi begitu emosional, mereka terasa begitu penting bagi orang yang mengalami. Namun, orang yang sekadar mendengarnya dan tidak merasakan emosinya akan kesulitan untuk mengerti,” ucap Davis.

Sebagai contoh adalah mimpi jatuh dari tangga. Bagi Anda yang melihatnya sendiri dalam mimpi, pengalaman tersebut sangat menakutkan. Namun, orang lain yang tidak merasakannya bisa menganggap ketakutan Anda terhadap mimpi tersebut konyol.

Oleh sebab itu, mimpi sebaiknya tidak dibicarakan kepada orang lain. Walaupun mimpi tesebut terasa penting dan menarik bagi Anda, mereka akan terasa membosankan bagi orang lain yang mendengarnya. Sumber: sains.kompas.com

Baterai Masa Depan Diklaim Akan Terbuat dari Rumput Laut

Selama ini, fokus penelitian terhadap penyimpanan energi hanya berfokus pada senyawa yang berbasis karbon, seperti grafena. Namun, seorang ahli kimia dari Universitas Qingdao, China, Yang Dongjiang, mengusulkan sebuah ide baru yaitu menggunakan kekuatan rumput laut untuk meningkatkan kemampuan baterai masa depan. Menurut Yang, struktur alga laut dapat dikombinasikan dengan logam untuk menghasilkan material baterai yang lebih baik, dan dapat diproduksi terus menerus.

"Kami ingin memproduksi material berbasis karbon melalui jalur 'hijau' yang sebenarnya. Karena rumput laut dapat diperbaharui, kami memilih ekstraknya sebagai prekursor dan contoh untuk mensintesis karbon berpori hirarkis," ujarnya.

Yang bekerja dengan sebuah tim yang ditarik dari Qingdao, dari pekerjaan lamanya di Universitas Griffith, Australia, dan Laboratorium Nasional Los Alamos di New Mexico.

Mereka memproduksi nanofiber kobalt-alginat dengan struktur yang tahan lama serupa kotak telur. Fiber tersebut dapat digunakan untuk mendorong kinerja baterai dan kapasitor, perangkat elektrik yang dapat menyimpan dan melepaskan tenaga dalam banyak perangkat elektrik.

Walaupun telah dipublikasikan di jurnal ACN pada tahun 2015, penemuan Yang dan timnya dipresentasikan dalam pertemuan Perhimpunan Kimiawi America di San Francisco pada minggu lalu.

Sebenarnya, ini bukan kali pertama para peneliti menggunakan rumput laut untuk membuat baterai yang lebih baik. Namun, Yang bersama timnya berkata bahwa mereka telah mampu menambah jumlah tenaga yang tersimpan dalam masing-masing gram baterai lithium-ionnya secara signifikan dengan menggunakan bahan yang mereka produksi.

Yang dan timnya mengklaim, jika diproduksi dengan kualitas yang cukup tinggi, baterai ini berpotensi mampu melipatgandakan rentang waktu penggunaan mobil listrik.

Akan tetapi, penemuan ini masih jauh untuk dipasarkan. Yang berkata bahwa lebih dari 20.000 ton rumput laut perlu dipanen setiap tahunnya untuk memproduksi bahan yang diperlukan dalam skala industri. Sumber: sains.kompas.com